Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Edukasi Digital dan Skrining PTM: Langkah Nyata Nurul Awainah, S.Farm., M.Si. Tingkatkan Kesehatan Desa

Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Edukasi Digital dan Skrining PTM: Langkah Nyata Nurul Awainah, S.Farm., M.Si. Tingkatkan Kesehatan Desa

AKADEMIK

Biro Aksi

4/19/20244 min read

black blue and yellow textile
black blue and yellow textile

BIRO AKSI UNASMAN – Kesehatan masyarakat di tingkat tapak kerap kali bermula dari peran vital para kader Posyandu. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar, kader tidak hanya dituntut aktif mendampingi ibu dan anak, tetapi juga merespons pergeseran tren penyakit modern. Saat ini, tantangan kesehatan global dan nasional telah bergeser secara signifikan: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung kian mengintai masyarakat perdesaan akibat perubahan pola hidup.

Melihat urgensi tersebut, dosen peneliti sekaligus pakar ilmu kefarmasian, Nurul Awainah, S.Farm., M.Si., menginisiasi sebuah program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang inovatif. Berjudul "Pemberdayaan Kader Posyandu melalui Edukasi Digital dan Skrining Penyakit Tidak Menular dalam Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat Desa", program ini hadir membawa pembaruan: memadukan pendekatan teknologi digital dengan tindakan preventif-promotif langsung di lapangan.

1. Latar Belakang: Mengapa PTM dan Mengapa Kader Posyandu?

Penyakit Tidak Menular (PTM) kerap dijuluki sebagai the silent killer. Sering kali, penderita PTM tidak merasakan gejala yang berarti pada stadium awal. Mereka baru menyadari kondisi kesehatannya saat penyakit sudah memasuki tahap lanjut atau memicu komplikasi fatal seperti stroke dan gagal ginjal. Di kawasan perdesaan, deteksi dini PTM sering kali terkendala oleh minimnya aksesibilitas informasi serta terbatasnya jangkauan deteksi dini.

Di sisi lain, Posyandu memiliki potensi kelembagaan sosial yang sangat kuat. Kader Posyandu adalah sosok-sosok lokal yang dihormati, dekat dengan warga, dan memiliki tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Sayangnya, pengetahuan kader kerap kali terbatas pada program kesehatan ibu dan anak (KIA) konvensional.

Mengantisipasi hal ini, Nurul Awainah, S.Farm., M.Si. menggarisbawahi perlunya up-skilling atau peningkatan kapasitas kader. Dengan membekali kader Posyandu pemahaman terkait faktor risiko PTM, keterampilan deteksi dini, serta literasi teknologi digital, Posyandu dapat ditransformasikan menjadi garda terdepan pencegahan PTM di tingkat desa.

2. Pemanfaatan Edukasi Digital: Menembus Batas Literasi Kesehatan

Salah satu pilar utama dalam program pengabdian yang dipimpin oleh Nurul Awainah adalah integrasi edukasi digital. Pada era keterbukaan informasi saat ini, penyampaian materi kesehatan secara lisan saja tidak lagi cukup. Kader Posyandu diajak untuk bertransformasi mengikuti perkembangan zaman melalui pemanfaatan media digital yang interaktif.

Bentuk edukasi digital yang diterapkan dalam kegiatan ini meliputi:

· Video Pembelajaran Interaktif: Materi mengenai pengenalan PTM, bahaya komplikasi, dan pola hidup sehat (Cerdik dan Patuh) dikemas dalam bentuk animasi serta video edukasi singkat yang menarik.

· Infografis dan Modul Digital: Modul-modul panduan penggunaan obat yang aman (DAGUSIBU: Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) serta manajemen PTM disusun dalam format e-book/PDF visual yang mudah diakses melalui ponsel pintar para kader.

· Pemanfaatan Grup Komunikasi Digital: Pembentukan wadah diskusi berbasis messaging app guna memudahkan konsultasi berkelanjutan antara tim ahli (dosen/apoteker) dengan para kader jika menemukan kendala di lapangan.

Pemanfaatan media digital ini terbukti meningkatkan daya ingat dan pemahaman para kader. Selain itu, materi digital tersebut menjadi sarana efisien bagi kader untuk kembali menyebarluaskan (re-sharing) informasi kesehatan yang sahih kepada warga desa melalui grup-grup komunikasi RT/RW maupun Posyandu.

3. Pelatihan Skrining PTM dan Literasi Obat yang Aman

Tidak hanya membekali pengetahuan teoritis, Nurul Awainah, S.Farm., M.Si. mengawal langsung sesi paktik atau workshop keterampilan teknis bagi para kader. Pembekalan difokuskan pada dua aspek krusial:

a. Pelatihan Keterampilan Skrining Kesehatan Dasar

Para kader dilatih secara intensif untuk melakukan pengukuran parameter kesehatan dasar secara mandiri dan akurat, seperti:

1. Pengukuran Tekanan Darah (Tensi): Memahami standar batasan hipertensi serta teknik penggunaan tensimeter digital yang benar.

2. Pemeriksaan Gula Darah dan Kolesterol Sewaktu: Menguasai tata cara penggunaan alat tes cepat (rapid test strip), prosedur higienis pemakaian lanset/jarum steril, dan cara membaca hasil pengukuran.

3. Pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT): Menghitung rasio berat badan dan tinggi badan serta lingkar perut untuk mendeteksi risiko obesitas sentral.

b. Edukasi Kefarmasian dan Penggunaan Obat yang Benar

Sebagai seorang akademisi di bidang Farmasi, Nurul Awainah memberikan penekanan khusus pada edukasi obat. Banyak penderita PTM di perdesaan yang menghentikan konsumsi obat hipertensi atau diabetes secara sepihak karena merasa tubuhnya sudah membaik, atau justru takut akan efek samping jangka panjang.

Melalui program ini, kader diajarkan bagaimana memberikan pemahaman kepada warga bahwa:

· Obat PTM bertujuan untuk mengontrol kondisi tubuh dan mencegah komplikasi serius.

· Penggunaan obat harus sesuai dosis dan petunjuk dokter/apoteker.

· Bahaya mengonsumsi obat-obatan herbal atau suplemen tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.

4. Pelaksanaan di Lapangan: Antusiasme dan Tingginya Partisipasi Warga

Kegiatan PkM ini disambut dengan antusiasme yang luar biasa dari pemerintah desa, pengurus Posyandu, dan warga setempat. Acara diawali dengan sesi pembekalan materi bagi para kader, dilanjutkan dengan simulasi mandiri di bawah bimbingan dan supervisi tim dosen.

Puncak dari kegiatan ini adalah Aksi Skrining Kesehatan Gratis dan Edukasi Kesehatan Masyarakat. Para kader yang telah dilatih langsung terjun melayani warga desa yang hadir. Warga mulai dari usia produktif hingga lansia berbondong-bondong memeriksakan kondisi kesehatan mereka.

Dari hasil skrining langsung di lokasi, terbukti bahwa masih ada sejumlah warga yang tidak menyadari bahwa kadar gula darah atau tekanan darah mereka telah melewati batas normal. Berkat deteksi dini ini, warga yang terindikasi memiliki risiko tinggi PTM langsung diberikan edukasi awal dan dirujuk ke Puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

5. Dampak dan keberlanjutan Program (Sustainability)

Pengabdian masyarakat yang ideal bukanlah kegiatan sekali datang yang langsung selesai (one-off event), melainkan kegiatan yang mampu menciptakan kemandirian dan keberlanjutan. Hal inilah yang menjadi komitmen utama Nurul Awainah, S.Farm., M.Si.

Dampak nyata dari pelaksanaan program ini antara lain:

1. Peningkatan Kapasitas dan Kepercayaan Diri Kader: Kader Posyandu kini memiliki kompetensi baru dan rasa percaya diri dalam melakukan deteksi dini serta menyampaikan edukasi PTM kepada warga.

2. Terbentuknya Database Kesehatan Desa: Data hasil skrining PTM dapat terdokumentasi dengan rapi sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah desa dan Puskesmas dalam memetakan profil kesehatan warga.

3. Meningkatnya Literasi Kesehatan Masyarakat: Pemahaman warga desa mengenai pentingnya pola hidup sehat, pencegahan PTM, dan kepatuhan minum obat mengalami peningkatan signifikan.

Kesimpulan dan Pesan untuk Pemuda

Program pengabdian yang dijalankan oleh Nurul Awainah, S.Farm., M.Si. menjadi bukti konkret bagaimana kolaborasi antara sains, akademisi, teknologi digital, dan kearifan lokal mampu menjawab tantangan nyata di masyarakat. Pemberdayaan kader Posyandu melalui integrasi digital dan skrining PTM bukan sekadar aksi sosial, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun fondasi kesehatan desa yang mandiri dan tangguh.

Bagi generasi muda dan pembaca Biro Aksi Unasman, aksi nyata ini merupakan panggilan untuk ikut peduli terhadap isu-isu kesehatan sosial di sekitar kita. Pemuda dapat mengambil peran sebagai agen perubahan (agent of change) dengan memanfaatkan keterampilan digital yang dimiliki untuk membantu menyebarkan literasi kesehatan yang benar, mengedukasi keluarga, serta mendukung kegiatan-kesehatan kemasyarakatan di wilayah masing-masing.

"Kesehatan masyarakat desa adalah cerminan dari masa depan bangsa. Ketika kita memberdayakan para kader di tingkat tapak, kita sedang menyalakan lilin harapan bagi kesejahteraan Indonesia yang lebih luas."Nurul Awainah, S.Farm., M.Si.

(Ditayangkan oleh: Redaksi Biro Aksi Unasman / Bidang Edukasi & Inovasi Masyarakat)

Layanan

Mendukung proses akademik dan kemahasiswaan secara efektif.

Informasi

Akademik

info@biroaksiunasman.com

085145459727

© 2024. All rights reserved.